Efek Berantai Kejatuhan IHSG: Tekanan ke Rupiah hingga Daya Beli Publik

Avatar photo
ihsg

ID, Jakarta — Gejolak tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir tidak berhenti sebagai persoalan pelaku pasar modal. Koreksi dalam yang menimpa bursa saham nasional berpotensi menimbulkan efek berantai yang menjalar ke sektor keuangan lain, termasuk nilai tukar rupiah, biaya pendanaan, hingga daya beli masyarakat.

Pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1), IHSG tercatat merosot hingga sekitar 8 persen, memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Tekanan belum sepenuhnya mereda. Hingga penutupan Senin (2/2), indeks masih bergerak turun dan kembali menyentuh kisaran 7.000.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260905-WA0007.jpg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Pemicu utama koreksi tersebut berasal dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara perhitungan sejumlah indeks yang memuat saham Indonesia. Langkah ini disertai permintaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memperbaiki aspek transparansi data kepemilikan saham, termasuk isu ultimate beneficial ownership (UBO) dan tingkat free float.

Bukan Sekadar Soal Investor Saham

Secara umum, penurunan IHSG kerap dipersepsikan sebagai kerugian investor pasar modal. Namun, fluktuasi tajam indeks saham juga mencerminkan tekanan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi nasional yang dampaknya bisa dirasakan lebih luas.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan