“Jika sampai terjadi skenario ekstrem, misalnya Indonesia diturunkan ke kategori Frontier Market, dampaknya akan jauh lebih dalam dan bersifat jangka panjang,” ujar Oktavianus.
Dalam situasi tersebut, Indonesia berisiko dipandang sebagai pasar yang lebih kecil dan kurang prioritas, sehingga arus modal asing bisa semakin menyusut. Konsekuensinya, biaya pendanaan meningkat dan ruang ekspansi ekonomi menjadi terbatas.
Ruang Meredam Tekanan Masih Terbuka
Meski tekanan pasar cukup signifikan, Oktavianus menilai peluang untuk meredam gejolak masih terbuka. Kunci utamanya terletak pada komitmen pemerintah dan otoritas pasar modal dalam membenahi tata kelola dan keterbukaan informasi.
“Yang bisa menahan tekanan pasar adalah hasil nyata dan konsistensi eksekusi pemerintah dalam memperbaiki transparansi di pasar saham,” ujarnya.
Sorotan MSCI, lanjutnya, selama ini berfokus pada keterbukaan UBO dan formula free float saham. Perbaikan di dua area tersebut dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan investor.
“Jika eksekusi perbaikan berjalan baik dan interim freeze dicabut, arus dana pasif berpotensi kembali masuk dan tekanan jual bisa berkurang,” jelasnya.
Selain reformasi tata kelola, kebijakan peningkatan likuiditas juga dinilai penting. Sejumlah instrumen domestik dipandang mampu menjadi penyangga pasar di tengah tekanan global.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
