Ekonom Nilai Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan Perkuat Stabilitas Rupiah dan Momentum Pertumbuhan Ekonomi

bi

JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen mendapat apresiasi dari kalangan ekonom. Kebijakan tersebut dinilai mencerminkan pendekatan moneter yang terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan ekspektasi inflasi, sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), BI memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility di level 4,75 persen, dan Lending Facility sebesar 6,50 persen. Langkah tersebut menjadi bagian dari bauran kebijakan moneter yang diarahkan untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan sekaligus menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi domestik.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai keputusan tersebut sejalan dengan proyeksi lembaganya, meskipun sebagian pelaku pasar sebelumnya memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.

Menurut Josua, bank sentral memilih mempertahankan suku bunga setelah mempertimbangkan efektivitas pengetatan kebijakan moneter yang telah dilakukan sepanjang Mei hingga Juni 2026. Akumulasi kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin, katanya, dinilai masih memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi.

“Bank Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Josua.

Ia menjelaskan bahwa arah kebijakan moneter ke depan masih sangat bergantung pada dinamika ekonomi global maupun domestik. Ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar keuangan internasional, serta perkembangan inflasi di berbagai negara menjadi faktor utama yang akan memengaruhi keputusan BI pada sisa tahun 2026.

Dalam perspektif ekonomi makro, meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah mendorong harga minyak dunia menembus kisaran US$90 per barel. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global sekaligus memperbesar risiko terhadap stabilitas pasar keuangan internasional.

Meski inflasi Amerika Serikat pada Juni 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar, Josua menilai perlambatan tersebut bersifat sementara karena banyak dipengaruhi oleh penurunan harga energi pada periode sebelumnya. Dengan tren harga minyak yang kembali meningkat, tekanan inflasi diperkirakan dapat muncul kembali dalam beberapa bulan mendatang.

Selain itu, sikap Federal Reserve (The Fed) yang masih mempertahankan kebijakan moneter ketat atau hawkish turut menjadi faktor eksternal yang terus dipantau Bank Indonesia dalam merumuskan arah kebijakan suku bunga.

Dari sisi domestik, Josua melihat sejumlah indikator ekonomi memberikan sinyal yang relatif positif. Keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan prospek stabil dinilai memperkuat kepercayaan investor serta mendorong aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Ia juga menilai kinerja fiskal pemerintah sepanjang semester pertama 2026 masih berada pada jalur yang sehat. Defisit anggaran tetap terkendali sehingga mampu meredam kekhawatiran terhadap risiko defisit kembar (twin deficits), yakni defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan secara bersamaan.

Penguatan nilai tukar rupiah hingga mencapai sekitar Rp17.885 per dolar AS pada pertengahan Juli 2026 juga dinilai menjadi indikator bahwa respons kebijakan moneter BI masih efektif dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Dalam proyeksi dasarnya, Bank Permata memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen hingga akhir 2026. Namun demikian, kemungkinan pengetatan kebijakan moneter tetap terbuka apabila tekanan eksternal meningkat secara signifikan.

Pada skenario yang lebih konservatif, Josua memperkirakan BI-Rate berpotensi naik hingga 6,50 persen apabila kondisi global mengalami pemburukan yang lebih serius dibandingkan situasi pada semester pertama tahun ini.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto. Ia menilai keputusan mempertahankan BI-Rate merupakan kebijakan yang sesuai dengan ekspektasi pasar sekaligus memberikan ruang bagi akselerasi sektor riil dan industri perbankan.

Menurut Myrdal, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa stance moneter Bank Indonesia masih bersifat akomodatif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan aspek stabilitas makroekonomi.

Ia mengungkapkan optimisme tersebut didukung oleh sejumlah indikator ekonomi domestik yang terus menunjukkan perbaikan, antara lain Indeks Keyakinan Konsumen, penjualan barang tahan lama, penjualan ritel, serta Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang menggambarkan aktivitas ekonomi masih berada pada jalur ekspansi.

Selain itu, Bank Indonesia dinilai masih memiliki ruang kebijakan yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal tersebut didukung meningkatnya arus modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta penguatan cadangan devisa nasional.

Myrdal menambahkan, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif tangguh di tengah tekanan global, didukung peringkat investasi dengan prospek stabil serta tingkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) yang kompetitif, masih menjadi daya tarik bagi investor internasional.

Menurutnya, apabila tekanan eksternal mulai mereda, pasar obligasi pemerintah berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, jika gejolak global meningkat, investor diperkirakan tetap memanfaatkan peluang investasi di pasar surat utang Indonesia karena menawarkan tingkat imbal hasil yang menarik dibandingkan berbagai negara berkembang lainnya.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah diperkirakan tetap berada dalam kondisi yang relatif stabil. Perbaikan neraca perdagangan, meningkatnya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik, serta berakhirnya periode puncak kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen menjadi faktor yang menopang penguatan mata uang nasional.

Bank Indonesia menegaskan bahwa keputusan mempertahankan BI-Rate merupakan bagian dari bauran kebijakan yang terintegrasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat pasar uang dan pasar valuta asing, meningkatkan likuiditas sistem keuangan, serta mempertahankan inflasi pada kisaran sasaran 2,5±1 persen selama 2026 hingga 2027.

Melalui kombinasi kebijakan moneter, makroprudensial, dan pendalaman pasar keuangan, BI berharap stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga sehingga mampu mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian.

red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version