Ia mengakui bahwa terdapat sejumlah gagasan dalam rencana tersebut yang dapat dipertimbangkan Israel. Namun, pemerintahnya tetap mempertahankan posisi yang dianggap sebagai kepentingan strategis negara.
“Mereka memiliki gagasan-gagasan, sebagian dapat kami terima dan sebagian tidak, dan kami tahu bagaimana harus bersikap tegas dalam hal-hal ini,” ujar Netanyahu.
Hingga saat ini, belum terdapat tanggapan resmi dari Gedung Putih maupun Presiden Donald Trump mengenai penolakan Netanyahu tersebut.
Dalam pernyataannya di hadapan kabinet, Netanyahu juga kembali menegaskan sikap politiknya mengenai masa depan Palestina. Ia bahkan menyatakan bahwa selama dirinya masih menjabat sebagai perdana menteri, Israel tidak akan membiarkan terbentuknya negara Palestina.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan perspektif antara pemerintah Israel dan rancangan diplomatik yang didukung Washington masih menjadi persoalan mendasar dalam upaya mencari penyelesaian konflik Gaza.
Netanyahu juga memperjelas standar yang digunakan Israel dalam menilai konsep pelucutan senjata Hamas. Menurutnya, pelucutan harus bersifat nyata dan komprehensif, bukan sekadar langkah simbolis.
“Keinginan Israel akan pelucutan senjata yang nyata, bukan pelucutan senjata yang semu, yang berarti penyingkiran seluruh persenjataan, termasuk senjata ringan,” lanjut Netanyahu.
Hamas Tetap Nyatakan Komitmen
Di tengah penolakan Israel, Hamas justru mengambil posisi yang berlawanan. Kelompok tersebut menyatakan tetap berkomitmen menjalankan rencana perdamaian Dewan Perdamaian secara penuh.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
