Manuver AS di Venezuela Picu Kekhawatiran Korea Utara, Kim Jong Un Disebut Waspada Skenario “Serangan Pemenggalan Kepala”

korea utara
Foto: AFP/STR

ID, Seoul – Langkah Amerika Serikat yang disebut-sebut melakukan operasi cepat untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dinilai memicu kecemasan di kalangan elite Korea Utara. Operasi tersebut dianggap sebagai gambaran nyata dari ancaman langsung terhadap pemimpin negara, termasuk bagi Kim Jong Un.

Pandangan itu disampaikan oleh Lee Il Kyu, mantan diplomat senior Korea Utara yang kini membelot ke Korea Selatan. Dalam wawancara eksklusif, Lee menilai aksi Washington di Venezuela dapat menjadi preseden berbahaya bagi rezim-rezim yang selama ini merasa aman di balik sistem pertahanan internal.

“Kim Jong Un kemungkinan besar melihat operasi semacam itu sebagai bukti bahwa skenario ‘serangan pemenggalan kepala’ bukan lagi sekadar teori,” ujar Lee, seperti dikutip AFP.

Lee, yang melarikan diri ke Korea Selatan pada November 2023, menyebut bahwa kepemimpinan Korea Utara memiliki obsesi tinggi terhadap keamanan personal pemimpinnya. Setiap indikasi ancaman eksternal, menurutnya, akan langsung direspons dengan penataan ulang total sistem pengamanan negara.

Selama periode 2019–2023, Lee Il Kyu menjabat sebagai penasihat politik Korea Utara di Kuba. Dalam kapasitas tersebut, ia terlibat dalam berbagai perundingan strategis, termasuk pembebasan kapal Korea Utara yang sempat ditahan di Panama pada 2013.

Salah satu tugas terakhir Lee adalah upaya diplomatik untuk mencegah Kuba menjalin hubungan resmi dengan Korea Selatan. Kegagalan misi tersebut, dikombinasikan dengan kekecewaan mendalam terhadap sistem politik Pyongyang, mendorongnya mengambil keputusan ekstrem untuk membelot.

“Saya mencapai titik jenuh,” ungkap Lee, menggambarkan alasannya meninggalkan rezim yang telah ia layani bertahun-tahun.

Perombakan pengamanan Kim Jong Un

Dalam perkembangan terpisah, Kim Jong Un dilaporkan telah melakukan perombakan besar-besaran terhadap struktur pengamanan pribadinya. Pekan lalu, pemimpin Korea Utara itu mengganti sedikitnya tiga pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas perlindungan dirinya.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyebutkan bahwa pergantian tersebut teridentifikasi sejak parade militer pada Oktober lalu. Tiga lembaga negara yang mengelola keamanan Kim Jong Un dilaporkan mengalami perubahan pimpinan secara bersamaan.

Perhatian khusus tertuju pada Komando Pengawal, unit elite yang menangani ancaman non-konvensional seperti serangan drone dan perang elektronik. Pergantian pimpinan di lembaga ini dinilai sebagai sinyal meningkatnya kekhawatiran Pyongyang terhadap bentuk serangan modern.

Analis Korea Institute for National Unification, Hong Min, menilai perubahan pola pengamanan tersebut berkaitan erat dengan langkah Korea Utara mengirim pasukan untuk mendukung Rusia dalam konflik Ukraina.

“Perubahan signifikan dalam sistem keamanan Kim Jong Un mulai terlihat sejak Oktober 2024, bertepatan dengan pengerahan pasukan Korea Utara ke Rusia,” kata Hong Min kepada AFP.

Selain faktor Ukraina, operasi AS terhadap Venezuela juga diyakini memperkuat kekhawatiran Pyongyang. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat awal bulan ini disebut menjadi peringatan nyata bagi Korea Utara tentang risiko terhadap keselamatan pemimpin negara.

Menurut Hong Min, skenario tersebut dipandang Pyongyang sebagai ancaman paling ekstrem terhadap kelangsungan rezim. “Bagi Korea Utara, ini adalah contoh konkret dari apa yang selama ini mereka sebut sebagai serangan pemenggalan kepala,” ujarnya.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana dinamika geopolitik global, termasuk tindakan AS di Amerika Latin, dapat berdampak langsung pada perhitungan keamanan negara-negara tertutup seperti Korea Utara. red

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version