ID, Dili— Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta meminta pemerintah Timor-Leste dan Indonesia mengalihkan perhatian dari seremoni diplomatik menuju pelaksanaan nyata berbagai kesepakatan bilateral. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri hari kedua Festival Fronteira 2026, Sabtu (24/10/2026), di Com, wilayah Lautém, Timor-Leste.
Dalam kesempatan itu, Ramos-Horta menyoroti kesenjangan antara banyaknya nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang telah ditandatangani dan realisasi kerja sama di lapangan. Menurutnya, kedua negara perlu memaksimalkan kesepakatan yang sudah tersedia sebelum menyusun perjanjian baru.
Ia juga menyapa 20 delegasi Forum Komunikasi Pejuang Timor-Timur (FKPTT) yang hadir dalam rangkaian festival. Kehadiran delegasi tersebut menjadi bagian dari pertemuan yang mempertemukan unsur pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak yang memiliki keterkaitan dengan hubungan Indonesia–Timor-Leste.
Rekonsiliasi Tak Cukup Berhenti pada Dialog
Ramos-Horta menegaskan bahwa pembicaraan mengenai rekonsiliasi kedua negara bukanlah hal baru. Ia mengingat kembali proses dialog yang telah berlangsung sejak 1999 bersama sejumlah pemimpin Indonesia, mulai dari Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurutnya, setelah proses dialog berlangsung selama bertahun-tahun, perhatian perlu diarahkan pada penyelesaian persoalan yang masih tersisa melalui pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Bagi pihak-pihak yang masih menyimpan persoalan, ia mendorong penyelesaian secara kekeluargaan dan melalui mekanisme adat.
“Silakan duduk di bawah pohon dan selesaikan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya ruang dialog yang dekat dengan masyarakat, tanpa menjadikan rekonsiliasi sebatas agenda formal atau pertemuan antarpemimpin.
Hubungan Warga Jadi Gambaran Kedekatan Dua Negara
Ramos-Horta juga menggambarkan hubungan Indonesia dan Timor-Leste saat ini sebagai hubungan yang harmonis dan aman. Ia menyoroti mobilitas masyarakat, pendidikan, dan kegiatan ekonomi lintas batas sebagai contoh hubungan yang berjalan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang disampaikannya ialah keberadaan lebih dari 10.000 pelajar Timor-Leste yang menempuh pendidikan di Indonesia. Ia menyebut aktivitas tersebut sebagai salah satu gambaran hubungan antarmasyarakat yang terus berlangsung.
Interaksi ekonomi juga terlihat dari kebiasaan warga Timor-Leste yang berkunjung ke Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, untuk berbelanja, terutama pada akhir pekan.
Ramos-Horta bahkan menyinggung pengalamannya menikmati kuliner di Atambua. Ia menyebut makanan KFC di kota tersebut terasa lebih enak dibandingkan dengan yang pernah dinikmatinya di New York.
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks kedekatan hubungan antarmasyarakat yang tidak hanya terbentuk melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui perjalanan, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pengalaman sehari-hari.
Evaluasi MoU dan Pendekatan Budaya
Dalam hal kerja sama resmi, Ramos-Horta meminta kedua negara mengevaluasi pelaksanaan kesepakatan yang telah ditandatangani. Ia menilai penambahan MoU tidak seharusnya menjadi prioritas apabila kesepakatan sebelumnya belum dijalankan secara efektif.
Ia mendorong pemerintah kedua negara untuk memusatkan perhatian pada implementasi, sehingga kerja sama bilateral menghasilkan manfaat konkret bagi masyarakat.
Agenda hari kedua Festival Fronteira 2026 turut diisi seminar mengenai Proses Rekonsiliasi (PRT). Pembahasan mencakup pendekatan kultural Nahe Biti Boot serta evaluasi Deklarasi Ambeno 2024.
Pendekatan Nahe Biti Boot dikenal sebagai tradisi pertemuan untuk membangun dialog dan menyelesaikan persoalan melalui proses yang melibatkan para pihak. Dalam konteks festival, pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat rekonsiliasi tidak hanya dari sisi diplomasi, tetapi juga melalui nilai dan praktik budaya masyarakat.
Setelah menyampaikan sambutan, Ramos-Horta mengikuti sesi foto bersama peserta dan undangan. Kehadirannya menjadi salah satu agenda utama hari kedua festival, yang mempertemukan pembahasan hubungan bilateral, pengalaman rekonsiliasi, serta interaksi antarmasyarakat Indonesia dan Timor-Leste. red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
