Trump bahkan melontarkan peringatan terbuka kepada pemerintah Kuba agar segera menyepakati kesepakatan dengan AS atau menghadapi konsekuensi. Dalam pernyataan sebelumnya, ia menegaskan tidak akan ada lagi pasokan minyak maupun bantuan finansial bagi Kuba.
“Tidak ada lagi minyak. Tidak ada lagi uang. Nol untuk Kuba,” tegas Trump, sembari mengklaim bahwa negara tersebut berada di ambang kehancuran.
Sebagai tindak lanjut, pada Kamis lalu Trump menandatangani perintah eksekutif yang membuka peluang penerapan tarif tambahan terhadap negara-negara yang mengekspor minyak ke Kuba. Kebijakan ini langsung memicu kekhawatiran di dalam negeri Kuba.
Sehari setelah kebijakan tersebut diumumkan, antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Havana, mencerminkan kekhawatiran warga akan krisis energi yang semakin parah.
Di sisi lain, hubungan diplomatik AS–Kuba turut memanas. Kuasa Usaha AS untuk Kuba, Mike Hammer, mengungkapkan bahwa saat melakukan kunjungan ke Provinsi Trinidad akhir pekan lalu, ia mendapat teriakan dan hinaan dari sekelompok warga.
“Saya menduga mereka berasal dari kelompok tertentu, namun saya yakin mereka tidak mewakili rakyat Kuba secara keseluruhan,” kata Hammer dalam sebuah video yang diunggah di platform X, merujuk pada kelompok yang berafiliasi dengan Partai Komunis Kuba.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












