Selain persoalan koordinasi, Purbaya juga menyoroti lemahnya sistem pengawasan sebagai faktor utama yang memicu pembengkakan biaya (cost overrun) dalam proyek Whoosh. Ia menilai bahwa meskipun proyek tersebut memiliki nilai strategis dan desain yang baik, implementasinya tidak didukung oleh mekanisme monitoring yang memadai.
Ia menambahkan bahwa problematika serupa juga terjadi pada proyek LRT Jabodebek, di mana kurangnya pengawasan menyebabkan akumulasi masalah yang berujung pada peningkatan biaya hingga puluhan triliun rupiah. Dalam perspektif ekonomi publik, kondisi ini mencerminkan inefisiensi alokasi sumber daya serta lemahnya kontrol institusional dalam proyek infrastruktur berskala besar.
Purbaya menekankan pentingnya penerapan disiplin eksekusi dalam proyek-proyek strategis nasional, khususnya pada era pemerintahan baru. Ia menggarisbawahi bahwa koordinasi lintas sektor—baik di tingkat pusat maupun daerah—harus dilakukan secara sistematis dan berbasis pemantauan real-time. Pendekatan ini dinilai krusial untuk meminimalkan risiko keterlambatan serta menjaga kepercayaan investor.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa tanpa sistem pengawasan yang kuat, proyek infrastruktur berpotensi mengalami penundaan dan pembengkakan biaya yang signifikan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menurunkan daya tarik investasi dan menciptakan persepsi risiko yang lebih tinggi di mata investor global.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















