Tantangan generasi muda saat ini, kata dia, bukan semata-mata berkaitan dengan kemampuan mengakses teknologi, melainkan juga bagaimana memanfaatkan informasi secara tepat dan bertanggung jawab.
Serena menegaskan, kebiasaan membaca perlu dibangun sebagai bagian dari pola hidup masyarakat. Lingkungan pendidikan memang memiliki peran penting, tetapi pembentukan budaya literasi tidak akan berjalan optimal apabila hanya dibebankan kepada sekolah.
“Dari membaca, ada banyak hal positif yang bisa kita peroleh. Karena itu, budaya literasi harus tumbuh bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan di ruang-ruang lain di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia mengajak peserta didik menjadikan aktivitas membaca sebagai kebutuhan untuk memperluas pengetahuan, bukan sekadar memenuhi tuntutan akademis. Kebiasaan tersebut dinilai dapat membuka ruang pengembangan kreativitas, memperkaya perspektif, serta membantu generasi muda membangun kemampuan berpikir secara sistematis.
“Membaca adalah cara terbaik untuk mengenal dunia lebih luas, menemukan gagasan baru, dan mempersiapkan diri untuk masa depan,” ungkapnya.
Lebih jauh, Serena mengaitkan penguatan literasi dengan agenda pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, generasi masa depan membutuhkan perpaduan antara penguasaan teknologi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, integritas, dan kepedulian sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
