Karena itu, ia berharap festival tersebut menghasilkan dampak yang berkelanjutan, bukan berhenti pada kegiatan tahunan. Pemerintah dapat menyediakan fasilitas dan ruang pembelajaran, tetapi keberhasilan membangun masyarakat literat membutuhkan keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, dan lingkungan sosial.
600 Peserta Terlibat dalam Beragam Kegiatan Literasi
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Kupang, Franky Amalo, menjelaskan bahwa festival tahun ini dirancang sebagai ruang partisipasi bagi pelajar dan komunitas untuk memperkenalkan berbagai bentuk karya serta aktivitas literasi.
Selama tiga hari penyelenggaraan, panitia menghadirkan sejumlah agenda, antara lain pameran buku, pameran karya literasi, gelar wicara atau talk show, pameran arsip, sayembara arsip sejarah Kota Kupang, bedah buku, pentas seni dan budaya, serta pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ragam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. Pengembangan pengetahuan juga dapat berlangsung melalui dokumentasi sejarah, diskusi, ekspresi seni, pengenalan budaya, hingga kreativitas ekonomi masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
