ID, KUPANG – Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., mendorong mahasiswa agar menjadikan kreativitas, inovasi, dan kekayaan budaya lokal sebagai modal untuk menjawab tantangan global. Pesan itu disampaikannya saat membuka Pekan Ilmiah dan Seni Mahasiswa (PISMA) X Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang di Ballroom Hendrikus, Gedung Rektorat UNWIRA, Senin (18/5).
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Serena menilai generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memadukan kemajuan ilmu pengetahuan dengan kekayaan budaya dan pengetahuan lokal Nusa Tenggara Timur. Perpaduan tersebut, menurutnya, dapat melahirkan karya inovatif yang memiliki daya saing di tingkat global.
“Tema PISMA tahun ini sangat relevan dengan perkembangan zaman. Kita hidup di era teknologi dan Artificial Intelligence yang berkembang sangat cepat. Namun di sisi lain, NTT memiliki kekayaan budaya dan pengetahuan lokal yang luar biasa. Ketika teknologi dipadukan dengan budaya, maka akan lahir karya-karya besar yang mampu bersaing secara global,” ujar Serena.
Ia menegaskan, mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Kampus dan berbagai ruang pengembangan mahasiswa perlu dimanfaatkan untuk melahirkan gagasan serta solusi yang dapat menjawab persoalan masyarakat.
“Jadilah pencipta perubahan, bukan sekadar penumpang perubahan. Kota Kupang dan NTT membutuhkan anak-anak muda yang kreatif, inovatif, serta mampu menghadirkan solusi, bukan hanya mengkritik keadaan,” tambahnya.
Serena juga mengapresiasi penyelenggaraan PISMA X sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan, mengembangkan kemampuan, dan menampilkan karya dalam beragam bidang. Kompetisi yang mencakup debat ilmiah, inovasi digital, perencanaan bisnis (business plan), serta seni dan budaya dinilainya dapat mempertemukan kemampuan intelektual dengan kreativitas.
Satu dekade perjalanan PISMA, menurut Serena, menjadi momentum untuk melihat perkembangan mahasiswa UNWIRA dalam membangun tradisi berkarya dan berinovasi. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda kompetisi tahunan, tetapi turut mendorong lahirnya karya yang memberi manfaat di luar lingkungan kampus.
Rektor UNWIRA Kupang, Pater Dr. Stefanus Lio, dalam sambutannya menempatkan PISMA sebagai bagian penting dari pembentukan karakter dan kualitas intelektual mahasiswa. Ia menilai ilmu pengetahuan dan seni memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang kritis sekaligus memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
“Kegiatan ini menghadirkan dua kekuatan besar manusia, yakni ilmu pengetahuan dan seni. Ilmu membentuk pola pikir yang kritis dan rasional, sementara seni membentuk kepekaan rasa dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika keduanya berjalan bersama, akan lahir insan akademik yang utuh,” ungkapnya.
Pater Stefanus berharap PISMA menjadi ruang pembelajaran yang mendorong mahasiswa berkompetisi secara sehat, berani mengembangkan pemikiran, serta menghasilkan inovasi yang dapat dikontribusikan bagi masyarakat.
Pembukaan PISMA X turut dihadiri para wakil rektor, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT Ni Luh Putu Sri Sandhi, para dekan, ketua program studi, dan jajaran dosen UNWIRA. Kegiatan ini diharapkan memperkuat budaya akademik sekaligus membuka ruang kolaborasi antara ilmu pengetahuan, seni, teknologi, dan potensi budaya lokal. red/pkp
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














