Salah satu gagasan penting yang disampaikan Aurum dalam momentum tersebut adalah mengenai paradigma pembangunan. Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak semata-mata dapat direpresentasikan melalui pembangunan jalan, gedung, maupun infrastruktur fisik lainnya. Infrastruktur memang penting sebagai instrumen pembangunan, tetapi kualitas manusia merupakan determinan fundamental dari keberlanjutan pembangunan itu sendiri.
“Pembangunan dalam konteks pemerintahan bukan hanya jalan, bukan hanya gedung fisik yang kita lihat, tetapi juga bagaimana membangun pribadi masyarakat kita, terutama bagaimana kekuatan iman dari masing-masing jemaat dan masyarakat. Untuk itu, kami juga perlu bermitra dengan pihak gereja,” katanya.
Dalam perspektif pembangunan manusia, pernyataan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk membangun human capital yang tidak hanya memiliki kompetensi ekonomi, tetapi juga karakter, integritas, solidaritas, kepedulian sosial, serta ketahanan moral. Atas dasar itu, pemerintah dan institusi keagamaan memiliki ruang kolaborasi yang strategis. Pemerintah memiliki instrumen kebijakan publik, sementara gereja memiliki basis komunitas dan kekuatan moral yang dapat berkontribusi dalam pembentukan karakter masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












