Kupang – Pemerintah Kota Kupang menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat harmoni sosial dan toleransi sebagai fondasi utama pembangunan daerah. Di tengah kemajemukan masyarakat, keberagaman dipandang bukan sekadar realitas sosial yang harus diterima, melainkan modal strategis yang mampu memperkokoh persatuan sekaligus mempercepat terwujudnya Kota Kupang sebagai kota yang maju, mandiri, sejahtera, inklusif, dan berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat menghadiri Perayaan Sannipata (Dharmasanti) Waisak Tingkat Kota Kupang Tahun 2570 Buddhist Era (BE) yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kota Kupang di Ballroom Palacio Hotel Aston Kupang, Kamis (16/7).
Kegiatan keagamaan tersebut turut dihadiri Yang Mulia Bhante Jagaro Mahathera, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Kupang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang Antonius Nggaa Rua, Ketua Permabudhi Provinsi Nusa Tenggara Timur Indra Effendy, Ketua TP PKK Kota Kupang dr. Widia Cahya, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Kupang Ellisah Pelt Lumban Tobing, jajaran Pemerintah Kota Kupang, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi NTT dan Kota Kupang, tokoh lintas agama, pimpinan organisasi keagamaan, serta umat Buddha dari berbagai wilayah di Kota Kupang.
Nilai Pengendalian Diri Menjadi Fondasi Kepemimpinan dan Kehidupan Bermasyarakat
Mengawali sambutannya, Christian Widodo menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bhante Jagaro Mahathera di Kota Kupang. Ia mengungkapkan bahwa sebelum kegiatan berlangsung dirinya memperoleh refleksi yang bermakna melalui percakapan bersama Bhante mengenai pentingnya mendahulukan tanggung jawab dibandingkan kepentingan pribadi.
Menurut Wali Kota, keputusan Bhante untuk memusatkan perhatian pada seluruh rangkaian kegiatan keagamaan sebelum menikmati agenda wisata merupakan representasi nyata dari nilai pengendalian diri yang memiliki relevansi kuat dalam kehidupan sosial maupun kepemimpinan.
Ia menilai kemampuan menunda kesenangan demi menyelesaikan tanggung jawab merupakan manifestasi kedewasaan moral yang perlu diteladani oleh seluruh elemen masyarakat.
“Pengendalian diri bukan berarti menolak kebahagiaan, tetapi menempatkan tanggung jawab di atas kepentingan pribadi. Nilai tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan bersama,” ungkapnya.
Pemerintah Menempatkan Organisasi Keagamaan sebagai Mitra Pembangunan
Wali Kota menyampaikan bahwa kehadirannya pada perayaan tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus ekspresi komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan seluruh umat beragama.
Menurutnya, umat Buddha selama ini telah memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah melalui berbagai aktivitas di bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hingga aksi-aksi kemanusiaan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Karena itu, pemerintah memandang organisasi keagamaan bukan hanya sebagai institusi spiritual, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun modal sosial, memperkuat kohesi masyarakat, serta menjaga stabilitas kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
Implementasi Nilai Keagamaan Harus Memberikan Dampak Sosial
Christian Widodo turut mengapresiasi berbagai rangkaian kegiatan sosial yang diselenggarakan Permabudhi dalam memperingati Hari Raya Waisak, seperti donor darah, bakti sosial, aksi peduli lingkungan, serta berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya.
Ia menegaskan bahwa substansi ajaran agama tidak berhenti pada pelaksanaan ritual maupun seremoni keagamaan, melainkan harus terimplementasi melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Menurutnya, aktivitas sosial tersebut menjadi contoh konkret bagaimana nilai-nilai spiritual dapat ditransformasikan menjadi praktik kehidupan yang memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.
“Peringatan hari besar keagamaan akan memiliki makna yang semakin mendalam ketika diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan kehidupan bersama,” tegasnya.
Pembangunan Daerah Memerlukan Penguatan Modal Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota kembali menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat dipahami hanya melalui pembangunan infrastruktur fisik maupun pertumbuhan ekonomi semata.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus disertai pembangunan karakter, penguatan moralitas publik, serta internalisasi nilai-nilai kemanusiaan yang mampu memperkuat kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Kota Kupang terus mendorong berbagai aktivitas keagamaan sebagai bagian integral dari strategi pembangunan daerah yang berbasis pada penguatan sumber daya manusia dan kohesi sosial.
Menurutnya, stabilitas sosial yang lahir dari toleransi dan kerukunan akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan iklim pembangunan yang kondusif.
Keberagaman Adalah Identitas Sekaligus Kekuatan Kota Kupang
Christian Widodo mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat keberagaman sebagai identitas sekaligus kekuatan utama Kota Kupang.
Ia mengibaratkan keberagaman seperti rangkaian nada dalam sebuah komposisi musik maupun helai benang dalam kain tenun tradisional. Meskipun memiliki karakter yang berbeda, seluruh unsur tersebut saling melengkapi sehingga membentuk harmoni yang utuh dan bernilai.
Menurutnya, persatuan tidak menuntut adanya keseragaman, melainkan kemampuan seluruh elemen masyarakat untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan bekerja sama dalam bingkai kebhinekaan.
Ia menegaskan bahwa perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, maupun tradisi bukan merupakan faktor pemisah, tetapi justru menjadi energi kolektif dalam mempercepat pembangunan Kota Kupang.
Kolaborasi Lintas Agama Menjadi Prasyarat Kemajuan Daerah
Dalam pidatonya, Wali Kota juga mengutip sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa datang bersama merupakan sebuah permulaan, tetap bersama adalah kemajuan, sedangkan mampu bekerja bersama merupakan bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.
Filosofi tersebut, menurutnya, menjadi relevan dalam konteks pembangunan Kota Kupang yang membutuhkan partisipasi aktif seluruh unsur masyarakat tanpa memandang latar belakang identitas.
Ia mengajak seluruh tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi pembangunan yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Permabudhi Tegaskan Komitmen Menjaga Harmoni Sosial
Sementara itu, Ketua Permabudhi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indra Effendy, menjelaskan bahwa Perayaan Trisuci Waisak merupakan momentum spiritual untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha sekaligus memperdalam penghayatan terhadap nilai-nilai Dharma.
Mengusung tema “Dharma Menjaga Kedamaian Dunia,” menurutnya, peringatan Waisak mengajak seluruh umat Buddha untuk terus mengembangkan nilai kasih sayang universal, pengendalian diri, kepedulian sosial, serta semangat menjaga persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang atas dukungan yang diberikan terhadap seluruh rangkaian kegiatan Waisak tahun ini. Menurutnya, perhatian pemerintah tersebut mencerminkan komitmen nyata dalam menjamin kebebasan beragama sekaligus memperkuat kehidupan masyarakat yang harmonis.
Indra menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Waisak tidak hanya diisi dengan aktivitas keagamaan seperti pendalaman Dharma, tetapi juga berbagai kegiatan sosial, antara lain donor darah, bakti sosial, aksi pelestarian lingkungan, hingga kunjungan ke panti sosial sebagai bentuk implementasi ajaran Buddha dalam kehidupan nyata.
Membangun Kota Melalui Penguatan Nilai Kemanusiaan
Menutup sambutannya, Wali Kota Kupang menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Waisak 2570 BE kepada seluruh umat Buddha di Kota Kupang.
Ia berharap semangat Waisak menjadi inspirasi dalam memperkuat kebijaksanaan, kedamaian, toleransi, dan cinta kasih yang mampu mempererat persaudaraan antarsesama warga.
Menurut Christian Widodo, keberhasilan pembangunan kota pada akhirnya tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur maupun indikator ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya membangun kehidupan yang damai, saling menghormati, menjunjung nilai kemanusiaan, serta menjaga harmoni dalam keberagaman.
Dengan penguatan kolaborasi antara pemerintah, organisasi keagamaan, dan seluruh komponen masyarakat, Pemerintah Kota Kupang optimistis identitas sebagai Kota Kasih akan terus terpelihara sekaligus menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
