ID, Maumere – Kerusakan infrastruktur air minum akibat gempa Flores tidak hanya menyisakan persoalan teknis bagi perusahaan daerah, tetapi juga menuntut kesinambungan pelayanan publik di tengah proses pemulihan pascabencana. Merespons kondisi tersebut, Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) menggalang solidaritas dan menyalurkan bantuan sebesar Rp214 juta kepada lima perusahaan air minum terdampak.
Dana tersebut dibagi secara merata. Masing-masing perusahaan menerima Rp43.200.000 untuk mendukung kebutuhan pemulihan infrastruktur, penanganan teknis, maupun penguatan pelayanan kepada masyarakat.
Lima perusahaan penerima bantuan itu yakni Perumda Air Minum Wae Mbeling Kabupaten Manggarai Barat, Perumda Air Minum Tirta Komodo Kabupaten Manggarai, Perumda Air Minum Kabupaten Ngada, Perumda Air Minum Tirta Kelimutu Kabupaten Ende, dan Perumda Air Minum Wair Puang Kabupaten Sikka.
Penyerahan bantuan berlangsung di Aula Biara Camilian, Kabupaten Sikka, Jumat (25/9) petang. Ketua PD Perpamsi NTT Jony Benny Sulaiman didampingi Sekretaris PD Perpamsi NTT Isidorus Lilijawa menyerahkan bantuan secara simbolis kepada perwakilan perusahaan penerima.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kasubag Administrasi Umum dan SDM Perumda Air Minum Wae Mbeling Manggarai Barat Leonardus Nong Yance, Kabag Hublang Perumda Air Minum Ngada Charles Wago, serta Direktur Perumda Air Minum Wair Puang Fransiskus Laka. Bantuan untuk Kabupaten Manggarai dan Ende diterima oleh Fransiskus Laka.
Solidaritas 300 Lebih Anggota
Ketua Perpamsi NTT, Jony Benny Sulaiman mengatakan, bantuan tersebut bermula dari inisiatif spontan lebih dari 300 anggota Perpamsi setelah gempa Flores pada Agustus 2026.
Penggalangan dana dilakukan sebagai bentuk solidaritas internal terhadap perusahaan air minum yang terdampak bencana. Setelah dana terkumpul, Perpamsi memutuskan menyalurkannya secara proporsional dengan nominal yang sama kepada lima perusahaan.
“Puji Tuhan dana terkumpul Rp 214 juta. Kami sepakati untuk dibagi rata kepada 5 perusahaan terdampak. Sekecil apapun, itu adalah bentuk perhatian untuk kita semua,” ungkap Jony Benny Sulaiman, yang juga Direktur Perumda Air Minum Kabupaten Kupang.
Menurut Jony, nilai bantuan tersebut memang tidak serta-merta dapat menutup seluruh kebutuhan pemulihan. Namun, dukungan tersebut diharapkan memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan layanan air minum.
Karena itu, Perpamsi mendorong agar dana diprioritaskan untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang mengalami gangguan akibat gempa.
“Dengan bencana ini, tentu saja cukup mengganggu instalasi, jaringan dlan lain-lain. Yah, mudah-mudahan bantuan ini bisa berdampak kepada pelayanan,” harapnya.
Sikka Siapkan Sumur Bor
Salah satu penerima bantuan yang telah menyiapkan skema pemanfaatan dana adalah Perumda Air Minum Wair Puang Kabupaten Sikka.
Direktur Perumda Air Minum Wair Puang, Fransiskus Laka, mengatakan pihaknya berencana menggunakan bantuan tersebut untuk mendukung pembangunan sumur bor di kawasan tengah Kota Maumere dan Gelora Samador da Cunha.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Perumda Air Minum Wair Puang tidak hanya mengandalkan dana dari Perpamsi. Perusahaan juga akan mengalokasikan tambahan anggaran internal.
“Kami sementara mendekati pemerintah daerah untuk mendapatkan izin lokasi,” ujar Fransiskus.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa bantuan solidaritas dapat dikonversi menjadi intervensi teknis yang lebih konkret, terutama dalam memperkuat sumber air dan menjaga kontinuitas pelayanan kepada pelanggan.
Ngada Masih Petakan Kebutuhan
Sementara itu, Perumda Air Minum Kabupaten Ngada belum menentukan secara spesifik penggunaan dana bantuan.
Kabag Hublang Perumda Air Minum Ngada, Charles Wago, mengatakan kerusakan pada sejumlah sumber air masih dapat ditangani melalui dukungan anggaran pemerintah daerah.
Namun, dampak gempa tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur. Sejumlah karyawan Perumda Air Minum Ngada juga ikut menjadi korban terdampak bencana.
Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu melakukan pemetaan kebutuhan sebelum menentukan prioritas penggunaan dana.
“Soal pemanfaatan bantuan ini, nanti kami diskusikan,” ujar Charles.
Labuan Bajo Relatif Tidak Terdampak
Berbeda dengan sejumlah wilayah lainnya, jaringan air minum di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, disebut tidak mengalami dampak signifikan akibat gempa.
Kasubag Administrasi Umum dan SDM Perumda Air Minum Wae Mbeling Manggarai Barat, Leonardus Nong Yance, mengatakan secara umum jaringan air minum di wilayah tersebut masih dapat beroperasi.
Meski demikian, bantuan Perpamsi tetap dinilai memiliki nilai strategis untuk meningkatkan kapasitas pelayanan kepada masyarakat pelanggan.
Artinya, bantuan tersebut tidak semata-mata diposisikan sebagai respons terhadap kerusakan fisik, tetapi juga dapat menjadi instrumen penguatan layanan setelah perusahaan menghadapi situasi kebencanaan.
Pemulihan Tidak Bisa Berdiri Sendiri
Sekretaris PD Perpamsi NTT, Isidorus Lilijawa, mengatakan pemulihan fasilitas air minum pascagempa membutuhkan koordinasi lintas institusi. Perusahaan air minum daerah tidak dapat bekerja sendiri ketika kerusakan menyangkut infrastruktur dengan kebutuhan pembiayaan dan penanganan teknis yang besar.
Menurut Isidorus, proses pemulihan melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, serta pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Balai Besar Wilayah Sungai Denpasar.
Keterlibatan berbagai institusi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan layanan air minum merupakan persoalan multidimensional. Selain menyangkut perbaikan jaringan dan sumber air, penanganannya juga berkaitan dengan koordinasi kelembagaan, dukungan anggaran, serta keberlanjutan pelayanan dasar masyarakat.
Isidorus berharap bantuan Perpamsi dapat menjadi bagian dari proses tersebut sehingga layanan air minum masyarakat Flores dapat kembali berjalan secara normal.
“Bantuan PERPAMSI pusat kami harapkan sedikit bisa memulihkan pelayanan air minum kepada masyarakat di Pulau Flores agar normal kembali,” kata Isidorus, yang juga menjabat Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang.
Pada akhirnya, Rp214 juta yang dihimpun dari solidaritas anggota Perpamsi bukan hanya berbentuk bantuan finansial. Dana tersebut menjadi bagian dari mekanisme gotong royong antarlembaga penyedia layanan publik untuk menjaga keberlanjutan akses air minum di tengah proses rehabilitasi pascagempa.
Dengan kebutuhan yang berbeda di setiap daerah, pemanfaatan dana pun diserahkan pada kondisi teknis masing-masing Perumda. Ada yang mengarahkannya untuk pembangunan sumber air baru, ada yang masih melakukan pemetaan kebutuhan, sementara daerah dengan dampak jaringan yang relatif terbatas tetap melihat bantuan tersebut sebagai modal penguatan pelayanan. (Ein)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
