ID, Jakarta — Arus modal asing kembali mengalir ke Indonesia. Kementerian Keuangan mencatat akumulasi dana asing yang masuk ke pasar keuangan domestik sepanjang 2026 hingga kuartal III mencapai Rp141,6 triliun.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemulihan aliran modal tersebut terutama terlihat pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Data itu disampaikan Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTA edisi September 2026, Jumat (18/9/2026).
Menurut dia, aliran dana asing ke SBN mulai menunjukkan perubahan setelah sebelumnya mengalami tekanan. Pada kuartal I 2026, arus modal ke instrumen tersebut masih tercatat negatif sebelum berbalik positif pada kuartal II.
Memasuki kuartal III, arus masuk kemudian semakin menguat.
“Modal masuk ke RI ke mana? pertama modal dari luar beli SBN inflow netto Rp 40,8 triliun,” kata Suahasil.
Selain SBN, aliran modal asing juga tercatat cukup besar pada SRBI. Suahasil menyebut nilai inflow ke instrumen tersebut mencapai Rp171,6 triliun.
Namun, ia mengatakan rincian mengenai derasnya aliran dana ke SRBI masih perlu dijelaskan lebih lanjut oleh Bank Indonesia.
“Ini nanti bisa dijelaskan oleh BI. Tapi koordinasi Kemenkeu dan BI sangat erat saat ini,” ujarnya.
Pasar Saham Masih Mengalami Outflow
Pemulihan arus modal asing belum terjadi secara merata di seluruh instrumen pasar keuangan.
Pasar saham Indonesia justru masih mencatat outflow sebesar Rp70,7 triliun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena arus modal di pasar saham sangat berkaitan dengan tingkat kepercayaan investor terhadap kredibilitas pasar domestik.
Suahasil mengatakan penguatan kredibilitas menjadi salah satu faktor penting agar investor kembali meningkatkan eksposurnya di pasar saham Indonesia.
“Ini perlu diperbaiki kalau pasar saham kita nanti lebih kredibel. Kuncinya kredibilitas. Kalau kredibel investor yakin beli saham di RI,” ujarnya.
Meski secara kumulatif masih mencatat arus keluar, tanda-tanda pembalikan mulai terlihat pada September.
Hingga 11 September 2026, pasar saham mencatat inflow sekitar Rp2,9 triliun.
“Jadi ini ada suatu pergerakan yang baik, tentu ini harus kita perhatikan dengan baik ke depannya,” kata Suahasil.
Dampak Suku Bunga Global
Pergerakan modal tersebut berlangsung ketika pasar keuangan domestik masih menghadapi pengaruh kondisi moneter global.
Suahasil turut menyoroti pergerakan Fed Fund Rate (FFR) dan dampaknya terhadap pasar keuangan Indonesia, termasuk imbal hasil SBN.
Menurut dia, perubahan tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah Indonesia karena pasar domestik tetap terhubung dengan dinamika pasar keuangan global.
“Kemarin FFR naik pasti ada dampak ke RI. Yang dilakukan pengelolaan makro kita adalah meminimalkan dampak negatifnya,” ujar Suahasil.
Ia juga menyinggung pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami tekanan sejak Januari hingga Juli 2026 sebelum memasuki periode pemulihan.
“IHSG turun Januari sampai Juli lalu ada mulai periode pemulihan,” katanya.
Dengan demikian, pemerintah melihat adanya tanda pemulihan pada aliran modal asing, meski pergerakannya masih berbeda antara instrumen pasar keuangan. SBN dan SRBI mencatat arus masuk, sementara pasar saham masih menghadapi tekanan outflow.
Perkembangan arus modal tersebut selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global, kredibilitas pasar domestik, serta respons kebijakan moneter dan fiskal dalam menghadapi perubahan suku bunga internasional. (Red)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














