“Keuangan syariah dapat terus tumbuh, namun aset besarnya tidak menjamin ketahanannya menghadapi guncangan. Risiko keuangan, kebutuhan likuiditas, dan perkembangan inovasi digital melintasi batas negara sehingga tidak dapat diatasi oleh satu institusi atau negara saja. Oleh karena itu, kolaborasi global perlu terus diperkuat untuk membangun ketahanan keuangan syariah yang berkelanjutan,” kata Solikin.
IFSB Soroti AI dan Perubahan Industri
Sekretaris Jenderal IFSB, Dr. Ghiath Shabsigh, menilai industri keuangan syariah berada pada fase penting yang menuntut kemampuan mengelola risiko sekaligus memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan nasabah.
Ia menyoroti potensi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pemanfaatan data berskala besar, serta instrumen keuangan hibrida dalam memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan dampak ekonomi maupun sosial.
Menurut Ghiath, Indonesia telah membangun fondasi penting dalam pengembangan keuangan syariah dan memiliki potensi besar untuk memperluas perannya dalam perekonomian global. Upaya bank sentral dalam mengembangkan industri, menyediakan fasilitas likuiditas, dan membangun infrastruktur pasar menjadi bagian dari fondasi tersebut.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














