Namun eskalasi tidak berhenti pada satu insiden. Beberapa jam setelah penembakan drone, ketegangan bergeser ke Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Di wilayah itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan melakukan tindakan intimidatif terhadap kapal tanker komersial berbendera Amerika Serikat, M/V Stena Imperative.
CENTCOM menyebut dua kapal cepat IRGC bersama sebuah drone Mohajer mendekati tanker tersebut dengan kecepatan tinggi dan melontarkan ancaman untuk naik serta menyita kapal. Situasi baru mereda setelah kapal perusak berpeluru kendali USS McFaul (DDG-74) memberikan perlindungan defensif, dibantu dukungan udara Angkatan Udara AS. Tanker tersebut akhirnya dapat melanjutkan pelayaran tanpa insiden lanjutan.
Rentetan peristiwa ini berlangsung di tengah upaya diplomatik yang tengah diupayakan Turki untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. Gedung Putih menegaskan bahwa jalur dialog tetap terbuka, meskipun situasi di lapangan semakin kompleks.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Presiden Donald Trump masih menempatkan diplomasi sebagai pilihan utama. “Presiden selalu mengutamakan diplomasi, tetapi itu membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak. Di saat yang sama, presiden memiliki berbagai opsi yang siap dipertimbangkan terkait Iran,” ujarnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














