Drone Teheran Ditembak Jatuh di Dekat Kapal Induk Amerika

Avatar photo
drone

ID, Idealis – Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali berada di titik rawan setelah militer AS menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak (Drone) milik Iran di perairan Laut Arab, sebuah insiden yang mempertegas meningkatnya risiko konfrontasi terbuka di kawasan Timur Tengah yang strategis.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa drone tersebut mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln dengan pola manuver yang dinilai berbahaya, memaksa pasukan AS mengambil tindakan defensif di wilayah perairan internasional.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/08/Ucapan-Dirgahayu-Indonesia.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Menurut juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, pesawat tanpa awak itu tetap melaju ke arah kapal induk meskipun prosedur de-eskalasi telah dijalankan. “Drone tersebut bergerak secara agresif menuju kapal induk dengan niat yang tidak jelas dan mengabaikan upaya pencegahan yang dilakukan pasukan AS,” kata Hawkins kepada Newsweek, Selasa (3/2/2026) waktu setempat.

Militer AS mengidentifikasi wahana udara itu sebagai Shahed-139, salah satu jenis drone yang dikembangkan Iran dan telah digunakan secara luas dalam konflik regional, termasuk di Ukraina. Drone tersebut akhirnya dihancurkan oleh jet tempur F-35C yang lepas landas langsung dari dek USS Abraham Lincoln, yang saat kejadian berada sekitar 500 mil dari pesisir selatan Iran. CENTCOM memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan pada aset militer AS.

Namun eskalasi tidak berhenti pada satu insiden. Beberapa jam setelah penembakan drone, ketegangan bergeser ke Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Di wilayah itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan melakukan tindakan intimidatif terhadap kapal tanker komersial berbendera Amerika Serikat, M/V Stena Imperative.

CENTCOM menyebut dua kapal cepat IRGC bersama sebuah drone Mohajer mendekati tanker tersebut dengan kecepatan tinggi dan melontarkan ancaman untuk naik serta menyita kapal. Situasi baru mereda setelah kapal perusak berpeluru kendali USS McFaul (DDG-74) memberikan perlindungan defensif, dibantu dukungan udara Angkatan Udara AS. Tanker tersebut akhirnya dapat melanjutkan pelayaran tanpa insiden lanjutan.

Rentetan peristiwa ini berlangsung di tengah upaya diplomatik yang tengah diupayakan Turki untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. Gedung Putih menegaskan bahwa jalur dialog tetap terbuka, meskipun situasi di lapangan semakin kompleks.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Presiden Donald Trump masih menempatkan diplomasi sebagai pilihan utama. “Presiden selalu mengutamakan diplomasi, tetapi itu membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak. Di saat yang sama, presiden memiliki berbagai opsi yang siap dipertimbangkan terkait Iran,” ujarnya.

Di Teheran, pernyataan keras datang dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika akan berujung pada “perang regional” berskala besar. Iran menyatakan tidak mencari konflik, namun menegaskan kesiapan penuh untuk merespons setiap bentuk agresi.

Presiden Trump, menanggapi pernyataan tersebut, kembali menyoroti pentingnya kesepakatan nuklir sebagai jalan keluar. “Jika kesepakatan itu tidak tercapai, maka kita akan melihat siapa yang benar,” kata Trump pada Minggu lalu.

Penempatan USS Abraham Lincoln di kawasan tersebut disebut Washington sebagai bagian dari strategi pencegahan dan perlindungan jalur perdagangan global. Namun, penggunaan drone oleh Iran—di ruang udara yang semakin padat oleh kepentingan militer dan komersial—menambah dimensi risiko baru bagi stabilitas kawasan yang sejak lama menjadi episentrum ketegangan geopolitik global. red

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan