Pengelolaan kontrak berada di bawah Pusat Manajemen Siklus Hidup Angkatan Udara AS yang berlokasi di Pangkalan Angkatan Udara Wright-Patterson, Ohio.
Untuk tahap awal, pemerintah AS telah menyediakan dana penelitian, pengembangan, pengujian, dan evaluasi tahun fiskal 2026 sebesar US$343.740 atau sekitar Rp6,08 miliar.
Bukan Hanya F-15, AS Garap Sistem Nuklir
Dalam pengumuman yang sama, Kementerian Perang AS juga mengungkap proyek pertahanan lainnya.
University of New Mexico di Albuquerque memperoleh kontrak senilai US$27,4 juta atau sekitar Rp485,12 miliar.
Kontrak tersebut berkaitan dengan pengembangan dan integrasi sistem nuklir, termasuk kegiatan pengujian serta evaluasi penerbangan sistem nuklir.
Pekerjaan itu juga mencakup sistem komando, kendali, dan komunikasi nuklir.
Proyek akan dikerjakan di Albuquerque, New Mexico, dengan target penyelesaian pada 24 November 2031.
Laboratorium Riset Angkatan Udara AS di Pangkalan Angkatan Udara Kirtland menjadi pihak yang menangani kontrak tersebut.
Pada saat kontrak diberikan, pemerintah AS telah mengalokasikan dana awal sebesar US$344.167 atau sekitar Rp6,09 miliar.
Kemunculan Indonesia dalam daftar proyek F-15 Eagle tersebut menempatkan kerja sama pertahanan Indonesia-AS dalam sorotan, terutama karena proyek ini mencakup modernisasi, integrasi sistem, hingga dukungan pemeliharaan jet tempur F-15 dalam jangka panjang. red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
