“Selama Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka,” kata Rezaei, seperti dikutip Tasnim, Rabu (12/8/2026).
Tuntutan Iran berkaitan dengan pencairan aset negara yang dibekukan serta penghentian perang di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang berlangsung di Lebanon dan Gaza.
Posisi Teheran tersebut memperlihatkan bahwa persoalan akses pelayaran kini menjadi bagian dari negosiasi politik yang lebih luas. Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut regional, tetapi salah satu titik paling menentukan dalam sistem perdagangan energi internasional.
Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima arus minyak dunia dan gas alam cair atau LNG melewati kawasan tersebut.
Karena itu, ancaman terhadap kelancaran pelayaran di Hormuz segera diterjemahkan pasar sebagai risiko pasokan. Harga minyak Brent pada perdagangan terbaru naik 1,4% menjadi US$88,91 per barel. Minyak mentah Amerika Serikat juga menguat 1,3% ke level US$83,20 per barel.
Kenaikan tersebut menjadi indikasi awal bahwa pasar mulai memasukkan faktor geopolitik sebagai salah satu komponen risiko dalam menentukan harga energi.
Trump Masih Buka Ruang Negosiasi
Washington dan Teheran hingga kini belum menemukan formula penyelesaian yang dapat diterima kedua belah pihak.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














