“Fokusnya bukan semata mengejar laba, tetapi mengecilkan beban anggaran,” ujarnya.
Ibrahim menilai konsolidasi dapat ditempuh melalui pembentukan holding atau akuisisi antarperusahaan dengan lini bisnis serupa. Namun, ia menggarisbawahi bahwa proses tersebut membutuhkan waktu realistis antara tiga hingga lima tahun. Mengurangi sekitar 700 entitas dalam satu tahun, katanya, hampir mustahil tanpa menimbulkan gangguan struktural.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak terhadap karyawan menjadi variabel krusial. Tanpa manajemen perubahan yang hati-hati, potensi PHK bisa memicu protes luas.
Di sisi lain, struktur yang lebih ramping diyakini dapat mempermudah pengawasan dan menekan pemborosan. Pengelolaan 300 entitas, secara administratif, lebih terkendali dibandingkan lebih dari seribu perusahaan dengan karakter dan risiko berbeda-beda.
Pada akhirnya, perdebatan tentang perampingan BUMN bergerak melampaui angka. Ia menyentuh persoalan rentabilitas, likuiditas, solvabilitas, serta integritas tata kelola. Tanpa pembenahan mendasar pada aspek manajerial dan akuntabilitas, konsolidasi berisiko menjadi sekadar perubahan struktur di atas kertas—rapi secara administratif, tetapi belum tentu sehat secara fundamental.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.















