Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Di Balik Target 300 BUMN: Antara Ambisi Konsolidasi dan Ancaman Risiko Sistemik

Avatar photo
bumn
Foto : danantaraindonesia.co.id

Bhima juga menyoroti beban finansial yang bisa muncul dari penggabungan entitas dengan kondisi keuangan berbeda. BUMN yang sehat berpotensi menanggung kewajiban perusahaan lain yang memiliki utang besar dan kinerja negatif. Alih-alih memperkuat, konsolidasi yang tidak selektif justru bisa melemahkan neraca kolektif.

Di sisi regulasi, persoalan tak kalah kompleks. Tidak semua BUMN berbentuk perseroan terbatas; sebagian masih berstatus Perusahaan Umum (Perum), yang membutuhkan penyesuaian hukum bila ingin dilebur. Revisi undang-undang kembali, menurut Bhima, dapat memunculkan ketidakpastian bagi mitra investasi, terutama dalam skema joint venture dan kepemilikan silang yang melibatkan investor swasta.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Lebih jauh, ia menekankan bahwa akar persoalan BUMN bukan semata jumlah entitas. Reformasi tata kelola, profesionalisasi manajemen, serta penunjukan direksi dan komisaris berbasis kompetensi dinilai jauh lebih menentukan dibanding sekadar penyederhanaan struktur.

“Belum tentu konsolidasi membuat BUMN lebih efektif. Jika praktik titipan jabatan dan persoalan kompetensi tidak dibenahi, yang sehat justru bisa ikut sakit,” katanya.

Pandangan berbeda disampaikan pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi. Ia melihat langkah tersebut sebagai bagian dari agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi beban anggaran negara. Banyak BUMN, menurutnya, selama ini bergantung pada suntikan dana pemerintah, terutama untuk biaya operasional dan manajemen.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan