ID, JAKARTA — Ketika arus informasi bergerak semakin cepat dan batas antara berita, opini, serta disinformasi kian kabur, tantangan utama jurnalisme tidak lagi semata-mata mengenai kecepatan menyampaikan kabar. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan informasi yang sampai kepada publik memiliki landasan faktual, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks itu, penguatan kapasitas jurnalis dan kolaborasi antarlembaga media menjadi semakin relevan. Transformasi teknologi telah mengubah ekosistem kerja jurnalistik secara fundamental. Seorang jurnalis kini dituntut tidak hanya mampu menulis, tetapi juga memahami produksi audio-visual, pengolahan data, teknologi peliputan bergerak, hingga karakteristik perilaku audiens di ruang digital.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Diskusi Panel Pengembangan Kompetensi Jurnalistik LPP RRI yang berlangsung pada 21 Agustus 2026.
Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, M.Si., dalam forum tersebut menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) dan ekosistem media siber nasional. Menurut dia, sinergi tersebut memiliki dimensi strategis, terutama dalam menghadapi eskalasi disinformasi sekaligus mempertahankan kualitas ruang publik.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














