Ketiga adalah fact-checking atau verifikasi informasi. Di tengah tingginya volume informasi yang beredar melalui media sosial dan berbagai platform digital, kemampuan memeriksa fakta menjadi fondasi yang tidak dapat dinegosiasikan.
Jurnalis, kata Firdaus, harus mampu melakukan pemeriksaan data, memanfaatkan perangkat investigasi digital, serta memastikan informasi yang dipublikasikan kepada masyarakat tidak mengandung hoaks ataupun manipulasi.
Keempat, digital analytics dan GEO. Kemampuan membaca pola perilaku audiens menjadi semakin penting karena distribusi informasi pada era digital tidak berlangsung secara linear. Pemahaman terhadap data audiens dapat membantu media menentukan strategi distribusi sekaligus meningkatkan relevansi berita bagi publik.
Meski demikian, Firdaus mengingatkan bahwa akselerasi teknologi harus tetap ditempatkan sebagai instrumen pendukung kerja jurnalistik, bukan sebagai substitusi terhadap prinsip-prinsip dasar pers.
“Kolaborasi RRI dan SMSI menjadi kunci penjaga kebenaran atau truth enforcer nasional,” kata Firdaus.
Kekuatan RRI dan SMSI Saling Melengkapi
Gagasan kolaborasi tersebut bertumpu pada karakteristik kedua institusi yang memiliki basis kekuatan berbeda tetapi dapat dikonsolidasikan untuk kepentingan publik.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














