Dari Kampus ke Kebijakan Daerah, Sekda Kupang Tantang Anak Muda Hadirkan Solusi Nyata

daerah

ID, KUPANG — Keterlibatan generasi muda dalam pembangunan daerah tidak cukup berhenti pada diskusi dan penyampaian pendapat. Gagasan kritis perlu diterjemahkan menjadi kontribusi nyata, sementara pemerintah dituntut membuka diri terhadap evaluasi masyarakat agar kebijakan yang dijalankan semakin responsif terhadap kebutuhan warga.

Perspektif tersebut mengemuka ketika Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, S.H., berdialog dengan mahasiswa dalam kegiatan Sociospectacle 2026 di lingkungan Program Studi Sosiologi Universitas Nusa Cendana (Undana), Rabu (21/10/2026).

Forum yang diselenggarakan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda itu mengangkat tema pembangunan nalar kritis generasi muda dalam menghadapi persoalan ekonomi, identitas, dan moral melalui partisipasi dalam kebijakan publik.

Di hadapan peserta, Jeffry menegaskan bahwa pemerintah daerah membutuhkan masukan dari masyarakat untuk mengenali kekurangan dalam penyelenggaraan pemerintahan sekaligus mencari jalan keluar atas berbagai persoalan perkotaan.

“Kami tidak alergi untuk menerima kritik maupun saran untuk perbaikan dalam pelayanan publik demi majunya Kota Kupang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Bagi Jeffry, keterlibatan publik bukan sekadar pelengkap proses pembangunan, melainkan salah satu unsur yang dapat membantu pemerintah memperbaiki pelayanan dan menentukan prioritas penanganan masalah.

Dari Rumah Kos hingga Ketersediaan Air Bersih

Dalam pemaparannya, Jeffry menyoroti sejumlah persoalan yang membutuhkan penanganan lintas sektor. Isu tersebut mencakup pengawasan lingkungan tempat tinggal dan rumah kos, pencegahan HIV, stabilitas harga bahan pokok, penguatan UMKM, serta peningkatan pelayanan air bersih.

Untuk persoalan sosial, ia menekankan perlunya keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, pemilik rumah kos, pengurus RT/RW, hingga aparat keamanan. Pemkot Kupang juga merencanakan penguatan koordinasi dengan Polresta dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam upaya pencegahan dan penanggulangan persoalan sosial.

Pada sektor kesehatan, edukasi mengenai pencegahan HIV terus dilakukan bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Sekolah, organisasi kepemudaan, karang taruna, dan tokoh agama dilibatkan untuk memperluas jangkauan informasi serta membangun kesadaran masyarakat mengenai risiko penularan dan pentingnya pencegahan.

Sementara itu, persoalan ekonomi direspons melalui sejumlah langkah, antara lain operasi pasar dan pasar murah untuk membantu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Pemerintah kota juga mendorong pengembangan UMKM melalui pendampingan administrasi usaha, pemasaran digital, serta penyediaan ruang berusaha lewat program SaBoak. Penyelenggaraan festival budaya di tingkat kelurahan turut didorong sebagai sarana menggerakkan transaksi ekonomi dan memberi ruang promosi bagi pelaku usaha lokal.

Adapun untuk pelayanan air bersih, pemerintah melanjutkan upaya pembenahan layanan, termasuk rencana perluasan jaringan dan penjajakan pemanfaatan sumber air guna mendukung distribusi kepada masyarakat.

Beragam persoalan itu memperlihatkan bahwa tantangan pembangunan kota tidak berdiri sendiri. Penanganannya memerlukan koordinasi antarlembaga, dukungan masyarakat, serta evaluasi yang berkelanjutan agar program pemerintah dapat memberikan manfaat sesuai kebutuhan warga.

Pengetahuan Akademik Harus Berdampak bagi Masyarakat

Jeffry meminta mahasiswa memanfaatkan masa pendidikan untuk memperluas pengetahuan dan membangun kemampuan berpikir kritis. Namun, ia mengingatkan bahwa pengetahuan akan kehilangan makna sosial apabila tidak digunakan untuk membantu orang lain atau menjawab persoalan di lingkungan sekitar.

“Saya hanya meminta dukungan dari adik-adik pemuda bahwa berjuanglah untuk mengambil ilmu sebanyak mungkin di ruang pendidikan, tapi ilmu itu tidak akan berarti jika tidak bisa diimplementasikan untuk orang lain,” pesannya.

Mahasiswa, dalam konteks tersebut, memiliki ruang untuk berkontribusi melalui penelitian, penyampaian rekomendasi, pengawasan kebijakan, maupun keterlibatan dalam kegiatan masyarakat. Kampus dapat menjadi tempat untuk menguji gagasan dan membangun argumentasi sebelum ide-ide tersebut diterapkan dalam kehidupan publik.

Kegiatan Sociospectacle 2026 menjadi salah satu ruang pertemuan antara pemikiran akademik dan praktik pemerintahan. Melalui dialog dengan pemangku kepentingan, mahasiswa dapat memperoleh gambaran mengenai kompleksitas pengambilan keputusan sekaligus memahami bagaimana kebijakan memengaruhi kehidupan masyarakat.

Selain Jeffry, forum tersebut menghadirkan Ketua Komisi II DPRD Kota Kupang, Roy Riwu Kaho, S.H., serta Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS, Julius Tanggu Bore.

Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undana, Dr. Yeheskial A. Roen, S.Si., M.Si., turut hadir bersama Koordinator Program Studi Sosiologi, Imanta Imanuel Perangin Angin, S.Sos., M.S.P.

Yeheskial menilai kegiatan tersebut memiliki fungsi yang lebih luas daripada pertunjukan seni. Menurutnya, Sociospectacle juga menjadi medium untuk menyampaikan gagasan dan pesan kepada masyarakat melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sosial.

Ketua Panitia, Didik Apriawan, menjelaskan bahwa kegiatan itu diselenggarakan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Pelaksanaannya diarahkan untuk mendorong mahasiswa dan dosen Program Studi Sosiologi FISIP Undana membangun perspektif kritis terhadap persoalan ekonomi, identitas, dan moral.

Diskusi publik bersama para narasumber diharapkan memperluas pemahaman peserta tentang proses kebijakan publik dan mendorong keterlibatan generasi muda dalam pembangunan Kota Kupang.

Pada akhirnya, kualitas partisipasi publik tidak hanya ditentukan oleh keberanian menyampaikan kritik, tetapi juga oleh kemampuan menawarkan gagasan yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, keterbukaan pemerintah dalam menerima masukan perlu diikuti dengan evaluasi dan tindak lanjut agar dialog tidak berhenti sebagai wacana, melainkan berkontribusi pada perbaikan pelayanan bagi masyarakat. red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version