Kenakan Busana Adat Manggarai dan Sikka, Pemkot Kupang Kirim Pesan Solidaritas untuk Korban Gempa Flores

Avatar photo
hut ri

ID, Kupang – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Kupang tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni kenegaraan. Di balik kekhidmatan upacara, Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang menyampaikan pesan solidaritas kepada masyarakat Flores yang tengah menghadapi dampak bencana gempa bumi.

Pesan tersebut terlihat dari pilihan busana adat yang dikenakan jajaran pimpinan daerah saat Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang, Senin (17/8/2026).

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/08/Ucapan-Dirgahayu-Indonesia.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang bertindak sebagai inspektur upacara, mengenakan pakaian adat Manggarai, Kabupaten Manggarai. Sementara Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, tampil mengenakan busana adat Sikka. Ketua TP PKK Kota Kupang, dr. Widya Cahya, yang merupakan istri Wali Kota, turut mengenakan pakaian adat Manggarai.

Pilihan tersebut bukan sekadar representasi kebudayaan lokal, melainkan dirancang sebagai simbol empati dan dukungan moral Pemerintah Kota Kupang terhadap masyarakat di sejumlah wilayah Flores yang terdampak gempa.

Dalam konteks sosial, penggunaan identitas budaya sebagai medium solidaritas memperlihatkan bahwa keberagaman tidak berhenti pada ekspresi simbolik, tetapi dapat menjadi instrumen untuk membangun kohesi sosial dan memperkuat rasa senasib di tengah situasi krisis.

Busana Hitam sebagai Simbol Duka

Christian menjelaskan bahwa pemilihan busana adat Manggarai dan Sikka memiliki pertimbangan khusus. Kedua daerah tersebut merupakan bagian dari wilayah Flores yang terdampak bencana.

“Hari ini saya dan Ibu Wakil memilih pakaian adat Flores. Saya menggunakan pakaian adat Manggarai, sedangkan Ibu Wakil menggunakan pakaian adat Sikka. Ini bentuk dukungan dan doa kita untuk keluarga-keluarga yang terdampak bencana gempa bumi,” ujar Christian.

Ia juga menjelaskan alasan penggunaan warna hitam yang dominan pada pakaian adat tersebut. Warna itu dimaknai sebagai representasi duka cita bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya akibat bencana.

WhatsApp Image 2026 08 17 at 15.04.09

“Dasarnya hitam, artinya kita turut berbela sungkawa kepada keluarga-keluarga yang telah meninggal dunia. Jadi, warna hitam ini melambangkan turut berbela sungkawa,” katanya.

Menurut Christian, keputusan tersebut merupakan bentuk komunikasi simbolik bahwa masyarakat Kota Kupang tidak berada di luar persoalan yang dihadapi warga Flores. Sebaliknya, terdapat ikatan sosial dan emosional yang mendorong masyarakat untuk ikut merasakan penderitaan serta memberikan dukungan kepada mereka yang terdampak.

Solidaritas Berbasis Masyarakat

Christian menambahkan, kepedulian terhadap korban bencana tidak hanya datang dari pemerintah. Sejumlah kelompok masyarakat di Kota Kupang telah mengambil inisiatif dengan membuka posko bantuan dan menggalang donasi.

Gerakan tersebut melibatkan berbagai elemen, termasuk gereja, partai politik, komunitas masyarakat dan kelompok sosial lainnya.

“Jadi Kota Kupang tentu semua elemen masyarakat sudah bergerak. Sudah ada gereja-gereja yang membuka posko. Nanti Pemkot juga akan segera mengumpulkan donasi untuk kita bantu ke sana,” ungkapnya.

Pemerintah Kota Kupang, lanjut Christian, juga tengah mempersiapkan langkah penggalangan bantuan sebagai bentuk respons kelembagaan terhadap kondisi masyarakat yang terdampak bencana.

Ia melihat partisipasi berbagai kelompok tersebut sebagai indikator kuatnya modal sosial masyarakat Kota Kupang.

“Banyak sekali yang bergerak. Ada partai politik yang sudah mulai mengumpulkan donasi, gereja-gereja, komunitas masyarakat,” pungkasnya.

Upacara Berlangsung Khidmat

Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kota Kupang berlangsung dengan khidmat. Sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat hadir, antara lain Ketua DPRD Kota Kupang, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi NTT, Sekretaris Daerah Kota Kupang, para asisten Setda, pimpinan perangkat daerah, camat dan lurah se-Kota Kupang, serta 36 anggota Paskibraka Kota Kupang.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, yang menjadi tema resmi peringatan kemerdekaan nasional 2026.

Di tengah momentum nasional tersebut, pilihan busana adat Manggarai dan Sikka memberikan dimensi lain pada perayaan kemerdekaan di Kota Kupang. Identitas kebudayaan ditempatkan berdampingan dengan nilai kemanusiaan, sementara solidaritas terhadap korban bencana menjadi bagian dari ekspresi kebangsaan.

Bagi Pemerintah Kota Kupang, pesan yang hendak disampaikan cukup jelas: kemerdekaan bukan hanya tentang merayakan capaian bangsa, tetapi juga tentang membangun kepedulian dan hadir bersama masyarakat ketika menghadapi masa sulit. red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan