Kawasan Saboak Taman Nostalgia sebagai titik akhir karnaval berubah menjadi episentrum aktivitas ekonomi. Puluhan pelaku usaha yang menjajakan kuliner tradisional, produk kriya, hingga aneka jajanan lokal menikmati peningkatan omzet yang dilaporkan mencapai beberapa kali lipat dibandingkan hari-hari normal.
Efek ekonomi positif juga dirasakan oleh sektor jasa pendukung. Meningkatnya arus pergerakan peserta maupun penonton memberikan peluang usaha bagi penyedia transportasi lokal serta pengelola area parkir di sepanjang rute kegiatan.
“Karnaval budaya ini membuktikan bahwa kegiatan kepramukaan tidak hanya fokus pada pembentukan karakter generasi muda, tetapi juga menjadi engine penggerak ekonomi kerakyatan secara langsung bagi masyarakat Kota Kupang,” ujar Ketua Kwarda NTT.
Namun, substansi kegiatan ini tidak berhenti pada dimensi budaya dan ekonomi semata. Karnaval juga menjadi ruang partisipatif bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi mengenai berbagai persoalan sosial yang berkembang di Nusa Tenggara Timur.
Selain menampilkan kekayaan busana adat dan pertunjukan seni tradisional dari 17 kabupaten/kota, setiap kontingen Kwarcab maupun Gudep Kota Kupang mengintegrasikan pesan-pesan edukatif dalam setiap atraksi yang ditampilkan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














