“Usia panjang almamater bukan hanya sesuatu yang dirayakan, tetapi juga panggilan untuk bertanya: apakah teologi yang kita pelajari sungguh hadir dan bekerja di tengah pergumulan masyarakat?” ujar Desiana dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan tema relasi gereja dan negara didasari kesadaran bahwa iman tidak pernah hidup dalam ruang hampa. Masyarakat yang dilayani gereja pada saat bersamaan adalah warga negara yang berhadapan dengan berbagai persoalan struktural, mulai dari kemiskinan, kualitas pendidikan dan kesehatan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, hingga bencana dan ketidakadilan sistemik. Persoalan-persoalan ini, menurutnya, tidak dapat dipandang sebagai urusan pemerintah semata.
Desiana menekankan bahwa gereja dan negara memiliki mandat yang berbeda, namun keduanya bertemu pada subjek yang sama: manusia. Karena itu, gereja dituntut untuk mempertahankan independensi dan fungsi kritisnya tanpa kehilangan empati terhadap penderitaan rakyat.
“Gereja harus menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan, tetapi jangan pernah menjaga jarak dari penderitaan rakyat. Suara kenabian hadir ketika gereja mendampingi korban, membela yang lemah, membuka ruang bagi mereka yang tidak didengar, dan bersedia bekerja bersama untuk memperbaiki kehidupan,” tegasnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














