Salah satu penegasan kuat yang muncul dalam pemaparannya adalah bahwa gereja masa depan tidak boleh hanya merenung di balik tembok suci. “Gereja harus berinkarnasi ke dalam ‘lumpur’ pergumulan rakyat, sebab di sanalah Kristus menanti. Gereja sebagai koinonia harus menjadi persekutuan yang sekaligus bersaksi dan melayani,” tegasnya.
Emilia Nomleni: Perubahan Lahir dari Kepedulian Sehari-hari
Dari perspektif politik dan pengalaman pelayanan gereja, Ir. Emilia J. Nomleni berbicara mengenai tanggung jawab lembaga politik dalam merespons berbagai persoalan masyarakat serta pentingnya partisipasi warga. Menurutnya, tanggung jawab untuk memperbaiki kehidupan bersama tidak dapat dibebankan hanya kepada pemimpin gereja, pemerintah, ataupun mereka yang duduk di lembaga politik.
“Perubahan itu tidak hanya lahir dari mimbar atau dari gedung DPR. Perubahan lahir dari kepedulian kita sehari-hari, dari keberanian kita untuk bertanya, dan dari komitmen kita untuk benar-benar bergerak, bukan cuma ramai-ramai di media sosial,” ujar Emilia.
Pesan tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab publik merupakan tanggung jawab kolektif. Gereja, negara, dan masyarakat sipil memiliki ruang masing-masing untuk mengawal keadilan serta memastikan bahwa kebijakan dan kehidupan sosial benar-benar berpihak kepada rakyat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














