Membangun Jembatan Kritis antara Gereja dan Negara: PASTIJA NTT Webinar dengan Narasumber dari Ranah Teologi, Gereja, dan Politik

Avatar photo
IMG 20260905 WA0005

 

Salah satu penegasan kuat yang muncul dalam pemaparannya adalah bahwa gereja masa depan tidak boleh hanya merenung di balik tembok suci. “Gereja harus berinkarnasi ke dalam ‘lumpur’ pergumulan rakyat, sebab di sanalah Kristus menanti. Gereja sebagai koinonia harus menjadi persekutuan yang sekaligus bersaksi dan melayani,” tegasnya.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/08/Ucapan-Dirgahayu-Indonesia.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

 

Emilia Nomleni: Perubahan Lahir dari Kepedulian Sehari-hari

Dari perspektif politik dan pengalaman pelayanan gereja, Ir. Emilia J. Nomleni berbicara mengenai tanggung jawab lembaga politik dalam merespons berbagai persoalan masyarakat serta pentingnya partisipasi warga. Menurutnya, tanggung jawab untuk memperbaiki kehidupan bersama tidak dapat dibebankan hanya kepada pemimpin gereja, pemerintah, ataupun mereka yang duduk di lembaga politik.

 

“Perubahan itu tidak hanya lahir dari mimbar atau dari gedung DPR. Perubahan lahir dari kepedulian kita sehari-hari, dari keberanian kita untuk bertanya, dan dari komitmen kita untuk benar-benar bergerak, bukan cuma ramai-ramai di media sosial,” ujar Emilia.

Teologi

Pesan tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab publik merupakan tanggung jawab kolektif. Gereja, negara, dan masyarakat sipil memiliki ruang masing-masing untuk mengawal keadilan serta memastikan bahwa kebijakan dan kehidupan sosial benar-benar berpihak kepada rakyat.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan