Membangun Jembatan Kritis antara Gereja dan Negara: PASTIJA NTT Webinar dengan Narasumber dari Ranah Teologi, Gereja, dan Politik

Avatar photo
IMG 20260905 WA0005

 

Yewangoe menyoroti korupsi, kolusi, dan nepotisme sebagai persoalan serius dalam kehidupan bernegara yang tidak dapat dilepaskan dari kelemahan manusiawi berupa keserakahan dan kecenderungan mengutamakan kepentingan diri sendiri. Ia mengingatkan dua bahaya yang harus diwaspadai secara bersama: negara jangan sampai berubah menjadi alat kekuasaan yang menindas rakyatnya sendiri, sementara gereja jangan menjadi takut, diam, atau terlalu sibuk dengan urusan internal ketika masyarakat sedang mengalami penderitaan.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/10/Untitled-image-11.png
Scroll kebawah untuk lihat konten

 

Samuel Pandie: Gereja Harus Berinkarnasi ke dalam “Lumpur” Rakyat

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Samuel Pandie, M.Th., membawa diskusi ke ranah pengalaman konkret melalui pemaparannya bertajuk “Dari Mimbar ke Pergumulan Rakyat.” Ia menjelaskan bagaimana GMIT berupaya mewujudkan iman di tengah perubahan zaman beserta berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat.

 

Samuel menggambarkan gereja dan negara sebagai “satu Tuhan, dua panggilan.” Negara dipahami sebagai diakonos Theou atau pelayan Allah, sedangkan gereja dipanggil menjadi agen shalom, pembawa damai sejahtera. Karena itu, gereja tidak cukup hanya menjadi komunitas yang kuat dalam persekutuan internal, melainkan harus menjadi komunitas kasih yang berinkarnasi, mandiri, dan berdaulat, serta mampu bergerak dari kegaduhan menuju solusi nyata.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan