Dari Ruang Digital Menuju Tindakan Nyata
Mengakhiri sesi diskusi, moderator Tony Fanggidae, Ph.D., mengajak seluruh peserta untuk tidak membiarkan gagasan-gagasan yang muncul hanya berhenti di ruang Zoom. Ia mendorong agar setiap peserta membawa pulang pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk didiskusikan lebih lanjut di komunitas, gereja, kampus, dan tempat kerja masing-masing.
“Mari kita bawa pulang pertanyaan-pertanyaan tadi. Ceritakan kepada teman-teman, diskusikan di komunitas, di gereja, di kampus, dan di kantor. Biarkan ini menjadi bahan renungan—dan lebih dari itu, menjadi pijakan untuk tindakan nyata. Karena kita semua ingin Indonesia yang lebih adil, lebih baik, dan lebih sejahtera,” pungkas Tony.
PASTIJA NTT menyampaikan apresiasi kepada ketiga narasumber yang dinilai telah memperkaya diskusi dari perspektif teologi, gereja, dan politik, serta berani berbicara secara terbuka dan kritis mengenai relasi gereja dan negara. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh peserta yang bertahan mengikuti diskusi selama empat jam dan terlibat aktif dalam percakapan tersebut.
Refleksi Akhir: Manusia sebagai Pusat Pengabdian
Bagi PASTIJA NTT, diskusi empat jam tersebut setidaknya meninggalkan satu pesan fundamental: gereja dan negara tidak harus menjadi satu, tetapi keduanya tidak boleh kehilangan manusia sebagai pusat pengabdiannya. Gereja membutuhkan keberanian untuk menyampaikan suara kenabian; negara membutuhkan keberanian untuk mendengar kritik; dan keduanya dipanggil untuk menghadirkan keadilan serta kesejahteraan bagi rakyat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














