Membangun Jembatan Kritis antara Gereja dan Negara: PASTIJA NTT Webinar dengan Narasumber dari Ranah Teologi, Gereja, dan Politik

Avatar photo
IMG 20260905 WA0005

 

Dari Ruang Digital Menuju Tindakan Nyata

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/10/Untitled-image-11.png
Scroll kebawah untuk lihat konten

Mengakhiri sesi diskusi, moderator Tony Fanggidae, Ph.D., mengajak seluruh peserta untuk tidak membiarkan gagasan-gagasan yang muncul hanya berhenti di ruang Zoom. Ia mendorong agar setiap peserta membawa pulang pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk didiskusikan lebih lanjut di komunitas, gereja, kampus, dan tempat kerja masing-masing.

 

“Mari kita bawa pulang pertanyaan-pertanyaan tadi. Ceritakan kepada teman-teman, diskusikan di komunitas, di gereja, di kampus, dan di kantor. Biarkan ini menjadi bahan renungan—dan lebih dari itu, menjadi pijakan untuk tindakan nyata. Karena kita semua ingin Indonesia yang lebih adil, lebih baik, dan lebih sejahtera,” pungkas Tony.

 

PASTIJA NTT menyampaikan apresiasi kepada ketiga narasumber yang dinilai telah memperkaya diskusi dari perspektif teologi, gereja, dan politik, serta berani berbicara secara terbuka dan kritis mengenai relasi gereja dan negara. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh peserta yang bertahan mengikuti diskusi selama empat jam dan terlibat aktif dalam percakapan tersebut.

 

Refleksi Akhir: Manusia sebagai Pusat Pengabdian

Bagi PASTIJA NTT, diskusi empat jam tersebut setidaknya meninggalkan satu pesan fundamental: gereja dan negara tidak harus menjadi satu, tetapi keduanya tidak boleh kehilangan manusia sebagai pusat pengabdiannya. Gereja membutuhkan keberanian untuk menyampaikan suara kenabian; negara membutuhkan keberanian untuk mendengar kritik; dan keduanya dipanggil untuk menghadirkan keadilan serta kesejahteraan bagi rakyat.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan