Membangun Jembatan Kritis antara Gereja dan Negara: PASTIJA NTT Webinar dengan Narasumber dari Ranah Teologi, Gereja, dan Politik

Avatar photo
IMG 20260905 WA0005

 

Desiana juga menyampaikan bahwa PASTIJA NTT tidak menggelar forum ini karena merasa memiliki semua jawaban, melainkan sebagai ruang belajar dan percakapan kritis mengenai posisi gereja di tengah kehidupan berbangsa. “Kiranya dalam sukacita Dies Natalis ke-92 STFT Jakarta, percakapan kecil dari NTT ini menjadi bagian dari panggilan yang lebih besar: berteologi dengan pikiran yang jernih, melayani dengan hati yang rendah, dan berani hadir ketika kehidupan serta martabat manusia dipertaruhkan,” pungkasnya.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/10/Untitled-image-11.png
Scroll kebawah untuk lihat konten

 

Yewangoe: Relasi Gereja-Negara Bersifat Dinamis

Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe membuka sesi diskusi dengan menekankan bahwa hubungan gereja dan negara bukanlah entitas statis yang dirumuskan sekali lalu dianggap final. Relasi tersebut bersifat dinamis, terus diuji oleh perkembangan zaman, dan membutuhkan sikap kritis dari kedua belah pihak.

 

Menurut Yewangoe, ketegangan tertentu antara gereja dan negara merupakan hal yang wajar dan bahkan produktif, selama orientasi akhirnya tetap pada terwujudnya kehidupan rakyat yang adil dan sejahtera. “Gereja dapat mengingatkan negara dan negara pun dapat mengingatkan gereja, tetapi yang kita temukan dan layani adalah manusia yang sama,” ujarnya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan