Desiana juga menyampaikan bahwa PASTIJA NTT tidak menggelar forum ini karena merasa memiliki semua jawaban, melainkan sebagai ruang belajar dan percakapan kritis mengenai posisi gereja di tengah kehidupan berbangsa. “Kiranya dalam sukacita Dies Natalis ke-92 STFT Jakarta, percakapan kecil dari NTT ini menjadi bagian dari panggilan yang lebih besar: berteologi dengan pikiran yang jernih, melayani dengan hati yang rendah, dan berani hadir ketika kehidupan serta martabat manusia dipertaruhkan,” pungkasnya.
Yewangoe: Relasi Gereja-Negara Bersifat Dinamis
Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe membuka sesi diskusi dengan menekankan bahwa hubungan gereja dan negara bukanlah entitas statis yang dirumuskan sekali lalu dianggap final. Relasi tersebut bersifat dinamis, terus diuji oleh perkembangan zaman, dan membutuhkan sikap kritis dari kedua belah pihak.
Menurut Yewangoe, ketegangan tertentu antara gereja dan negara merupakan hal yang wajar dan bahkan produktif, selama orientasi akhirnya tetap pada terwujudnya kehidupan rakyat yang adil dan sejahtera. “Gereja dapat mengingatkan negara dan negara pun dapat mengingatkan gereja, tetapi yang kita temukan dan layani adalah manusia yang sama,” ujarnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














