ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi valuasi pasar saham Indonesia saat ini berada pada level yang relatif kompetitif dibandingkan pasar modal di kawasan regional. Situasi tersebut dipandang sebagai peluang strategis bagi investor untuk melakukan langkah investasi secara selektif dan berbasis fundamental.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa rasio Price to Earnings Ratio (PER) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada pada kisaran 16 kali, angka yang dinilai lebih rendah dibandingkan rata-rata valuasi sejumlah bursa saham di kawasan regional.
Pernyataan tersebut disampaikan Hasan dalam konferensi pers yang berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, penurunan valuasi tersebut merupakan konsekuensi dari koreksi pasar yang terjadi setelah IHSG sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah pada awal tahun 2026. Kendati demikian, kondisi tersebut justru dapat menciptakan ruang bagi investor untuk memperoleh aset dengan tingkat valuasi yang lebih menarik.
“Secara regional, PER pasar saham Indonesia berada di bawah rata-rata bursa lain. Kondisi ini dapat menjadi momentum bagi investor untuk masuk ke pasar dengan tetap menerapkan prinsip selektivitas dalam memilih saham berkualitas,” ujar Hasan.
Dari aspek dinamika perdagangan, IHSG pada pembukaan sesi perdagangan Rabu pagi tercatat mengalami koreksi sebesar 1,33 persen atau turun 91,03 poin ke posisi 6.767,87. Sementara itu, volume transaksi mencapai sekitar 520 juta saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp290,312 miliar.
Meski pasar mengalami tekanan, OJK menilai kondisi perdagangan masih berlangsung dalam koridor yang wajar. Hasan menjelaskan bahwa dampak penyesuaian indeks global, termasuk hasil evaluasi indeks oleh MSCI, belum menunjukkan tekanan ekstrem terhadap pasar domestik.
Lebih lanjut, OJK mengamati bahwa saham-saham yang terdampak belum mengalami penurunan hingga batas auto rejection bawah (ARB), yang mengindikasikan bahwa pasar masih memiliki kapasitas penyerapan terhadap sentimen eksternal maupun domestik.
Selain itu, indikator aktivitas perdagangan seperti frekuensi transaksi, volume, dan nilai perdagangan juga dinilai relatif stabil dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan pasar tidak didominasi aksi jual secara masif (panic selling), melainkan masih diimbangi oleh aktivitas pembelian dari pelaku pasar.
Secara makro, stabilitas tersebut memperlihatkan bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki daya tahan terhadap dinamika geopolitik global dan berbagai faktor ekonomi domestik yang memengaruhi sentimen investor.
OJK berharap investor dapat memanfaatkan kondisi pasar saat ini melalui pendekatan investasi yang lebih terukur, mengedepankan analisis fundamental, serta mempertimbangkan prospek jangka panjang dari emiten yang dipilih.
red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.













