Eskalasi konflik dilaporkan terjadi di jalur strategis Selat Hormuz, yang berdampak pada distribusi energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak lebih dari 5 persen, memperkuat tekanan inflasi global. Dalam situasi ini, penguatan dolar AS membuat emas—yang diperdagangkan dalam denominasi dolar—menjadi relatif lebih mahal bagi investor non-dolar, sehingga menurunkan permintaan.
Selain itu, prospek kebijakan moneter yang ketat turut membatasi daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai. Berbeda dengan aset berbunga, emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang kompetitif dalam lingkungan suku bunga tinggi. Sejumlah lembaga keuangan, termasuk Barclays, bahkan memperkirakan tidak akan ada pelonggaran kebijakan dari Federal Reserve dalam waktu dekat.
Pada pekan sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan yang dinilai cukup terfragmentasi, mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, khususnya dari sektor energi.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti data lowongan kerja, laporan tenaga kerja ADP, serta payroll non-pertanian April, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















