Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Tertinggi Sejak Covid, Laju Pertumbuhan Ekonomi NTT 2025 Sebesar 5,14 Persen

Avatar photo
ekonomi
Kegiatan Diskusi bersama media Sasando Dia di Kantor Bank Indonesia Perwakilan NTT Foro : Ein

ID, Kota Kupang – Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur sepanjang 2025 menunjukkan pemulihan yang kian solid. Bank Indonesia mencatat laju ekonomi daerah tumbuh 5,14 persen secara tahunan (year on year/yoy), melonjak dibandingkan 2024 yang sebesar 3,48 persen. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 dan berada di atas rata-rata nasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Adidoyo Prakoso, menjelaskan bahwa akselerasi ekonomi tersebut berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan relatif masyarakat. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita tercatat naik menjadi Rp25,84 juta per tahun, atau bertambah Rp1,57 juta dibandingkan tahun sebelumnya.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi 2025 ditopang oleh kombinasi faktor struktural dan siklus. Produksi pertanian meningkat seiring perbaikan cuaca dan produktivitas, aktivitas perdagangan terdorong kebijakan hilirisasi serta ekspor, dan defisit neraca perdagangan terhadap PDRB menyempit dari minus 37,53 persen menjadi minus 32,34 persen.

“Momentum ekonomi ini patut dijaga karena merupakan capaian terbaik dalam periode pascapandemi,” ujarnya dalam forum diskusi media “Sasando Dia” di Kantor BI NTT, Senin (2/3/2026).

Risiko Global dan Dinamika Harga

Meski fundamental ekonomi menguat, Bank Indonesia mengingatkan potensi tekanan eksternal pada 2026. Konflik di kawasan Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga energi global dan gangguan distribusi. Dampaknya bisa menjalar ke inflasi daerah melalui biaya logistik dan energi.

Sepanjang 2025, inflasi NTT tercatat 2,39 persen (yoy), berada tepat dalam rentang sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen. Kondisi ini mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga. Namun pada Februari 2026, inflasi meningkat menjadi 3,42 persen (yoy), terutama dipicu penyesuaian tarif listrik akibat efek basis kebijakan diskon awal 2025. Sementara komponen bahan makanan tetap terkendali berkat koordinasi pengendalian inflasi daerah.

Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat strategi 4K: menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan mengintensifkan komunikasi publik. Implementasinya meliputi operasi pasar, pasar murah, gerakan tanam, hingga subsidi transportasi.

Optimisme 2026 dan Akselerasi Digital

Memasuki 2026, ekonomi NTT diproyeksikan tumbuh pada kisaran 4,94–5,54 persen. Proyeksi tersebut ditopang prospek konsumsi rumah tangga yang tetap dominan serta peningkatan investasi, meski risiko global masih menjadi variabel yang dicermati.

Transformasi digital juga semakin terasa. Sepanjang 2025, tercatat 25.787 pengguna baru QRIS dengan nilai transaksi mencapai Rp4,03 triliun dari 75 juta transaksi. Sebanyak 19 pemerintah daerah di NTT telah masuk kategori pemda digital, menandakan percepatan integrasi sistem pembayaran non-tunai dalam tata kelola pemerintahan.

Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, BI menyiapkan Rp1,7 triliun uang layak edar melalui layanan kas keliling dan kas titipan guna memastikan kelancaran transaksi masyarakat.

APBN dan Struktur Ekonomi Daerah

Dari sisi fiskal, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTT, Adi Setiawan, menegaskan belanja negara masih menjadi pengungkit utama ekonomi daerah. Realisasi APBN 2025 di NTT mencapai 95,2 persen.

Struktur ekonomi NTT menunjukkan konsumsi rumah tangga menyumbang 66,29 persen terhadap PDRB, sedangkan belanja pemerintah berkontribusi 21,79 persen. Porsi dana transfer ke daerah yang hampir 70 persen dari total pagu sekitar Rp30 triliun dinilai strategis dalam menciptakan efek pengganda ekonomi ketika segera direalisasikan.

Indikator Sosial dan Penguatan UMKM

Pemerintah Provinsi NTT mencatat tingkat kemiskinan pada September 2025 turun menjadi 17,5 persen dari 19,02 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada triwulan II 2025, pertumbuhan ekonomi NTT bahkan masuk 10 besar nasional.

Pemprov mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal melalui program One Village One Product (OVOP) serta penguatan jaringan pemasaran produk unggulan daerah.

Di sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aset perbankan NTT tumbuh 7,45 persen (yoy) menjadi Rp56,46 triliun per akhir 2025. Kredit meningkat menjadi Rp47,41 triliun dengan rasio kredit bermasalah (NPL) 3,57 persen, masih dalam batas aman. Kredit UMKM mendominasi dengan nilai Rp17,42 triliun atau 65,84 persen dari total kredit.

Selain itu, jumlah investor pasar modal mencapai 50.016 SID, sementara outstanding fintech peer-to-peer lending tumbuh 50,33 persen menjadi Rp874 miliar, mencerminkan peningkatan inklusi dan literasi keuangan masyarakat.

Sejumlah capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi NTT kian menguat. Namun, tantangan global dan konsistensi implementasi kebijakan tetap menjadi faktor penentu keberlanjutan pertumbuhan di tahun mendatang.

red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan