Ia mengajak masyarakat menjadikan tanah dan sumber daya alam sebagai aset strategis pembangunan yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Prinsip keberlanjutan, menurutnya, perlu menjadi bagian integral dari aktivitas pertanian agar sumber daya tersebut tetap produktif dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam perspektif tersebut, rasa syukur tidak cukup diekspresikan melalui seremoni keagamaan. Syukur perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret, seperti menjaga lahan, meningkatkan produktivitas, mengelola sumber daya secara bijaksana, dan memperkuat solidaritas sosial melalui semangat gotong royong.
“Syukur panen bukan hanya tentang kita bersyukur karena mendapatkan hasil. Syukur juga harus diwujudkan dengan bagaimana kita menjaga tanah, mengolahnya dengan baik dan memastikan hasilnya dapat dinikmati oleh keluarga dan masyarakat,” jelasnya.
Yosef juga menghubungkan pembangunan sektor pangan dengan pembangunan manusia. Menurutnya, ketahanan ekonomi masyarakat tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga oleh kekuatan institusi sosial yang membentuk karakter dan solidaritas masyarakat.
Dalam konteks tersebut, gereja dan lembaga keagamaan dinilai memiliki peran penting dalam membangun kehidupan sosial yang berlandaskan kebersamaan, kepedulian, serta semangat gotong royong.
Sebelas Tahun Pembangunan Gereja
Dalam pertemuan bersama jemaat, Yosef turut menyoroti perjalanan pembangunan Gedung Gereja Imanuel Oesao yang telah berlangsung sekitar 11 tahun.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














