Ia memahami bahwa pembangunan rumah ibadah dalam rentang waktu panjang merupakan proses yang tidak sederhana. Keterbatasan pembiayaan, dinamika internal jemaat, serta kebutuhan untuk mempertahankan semangat kebersamaan menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi.
Meski demikian, Yosef mengingatkan jemaat agar perjalanan panjang tersebut tidak menimbulkan keputusasaan. Ia meminta seluruh anggota jemaat mempertahankan persatuan dan menjadikan pembangunan gereja sebagai kerja bersama.
“Kalau membangun rumah selama 11 tahun belum selesai, tentu ada rasa kecewa. Tetapi jangan sampai kecewa itu berubah menjadi putus asa. Kita harus terus berjuang karena apa yang kita bangun ini adalah rumah Tuhan,” ungkapnya.
Bagi Yosef, keberhasilan pembangunan gereja tidak semestinya hanya diukur berdasarkan penyelesaian konstruksi fisik. Esensi gereja, menurutnya, justru terletak pada kualitas persekutuan dan kehidupan umat yang berlangsung di dalamnya.
Karena itu, ia mengingatkan agar pembangunan fisik berjalan seimbang dengan penguatan kehidupan jemaat. Bangunan yang representatif, kata dia, akan kehilangan makna apabila tidak disertai relasi sosial yang harmonis dan kehidupan persekutuan yang kuat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














